Posts

Ibadur Rahman

Image
  Alloh menyebutkan sifat-sifat mereka sebagai sifat-sifat yang paling sempurna dan paling utama. Alloh menyebutkan sifat-sifat hamba-hamba itu dengan: Pertama:  Orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Mereka adalah orang-orang yang meniti kehidupan ini dengan senantiasa tawadhu’ terhadap Alloh dan rendah hati kepada sesama makhluk, mereka berada dalam ketenangan dan memiliki kewibawaan, senantiasa tawadhu’ kepada Alloh dan kepada hamba-hambaNya. Dan apabila orang-orang pandir melontarkan kejahilannya kepada mereka, maka tidaklah hal itu membuat mereka membalas kebodohan dengan kebodohan atau dengan perbuatan dosa. Ini yang membuat mereka semakin terpuji, yaitu sikap lemah lembut dan santun, mereka membalas kejelekan dengan perbuatan ihsan dan kebaikan, bahkan memaafkan orang yang pandir atas kejahilannya, disertai ketabahan hati mereka yang mengagumkan sehingga dapat mengang...

Janganlah Berburuk Sangka Kepada Allah

Image
Para pembaca yang budiman, perlu untuk kita ketahui bersama bahwa Alloh adalah Dzat yang maha sempurna, baik dari Nama, Sifat maupun perbuatan-Nya. Tidak ada satupun aib atau cela yang terdapat pada Alloh. Sebagai bentuk realisasi tauhid, kita dilarang mengingkari nama dan sifat yang telah ditetapkankan oleh Alloh Ta’ala. Kita wajib percaya dan menerima sesuatu yang telah ditetapkan Alloh kepada para hambaNya. Segala Sesuatu Diciptakan Dengan Hikmah Alloh menciptakan langit dan bumi beserta isinya, semuanya tentu mengandung hikmah yang agung dan tidak dalam rangka kesia-siaan. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya,  “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (hanya sia-sia saja). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka…”  (Ash-Shood: 27). Termasuk tatkala Alloh memberikan manfaat (kebaikan) atau suatu  mudhorot  (musibah) pada seseorang, tent...

Jujur, Kiat Menuju Selamat

Image
Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya. Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda, “Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di s...

Jangan Terlena Dengan Kenikmatan Semu Itu

Image
Di saat Allah menghendaki terjadinya hari kiamat, Dia pun memerintahkan malaikat Israfil untuk meniup terompetnya dua kali. Tiupan pertama sebagai pertanda untuk membinasakan seluruh makhluk yang ada di muka bumi dan langit, sedangkan tiupan kedua untuk membangkitkan mereka kembali. Allah ta’ala berfirman: وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri (menunggu (putusannya masing-masing).”  (QS. Az-Zumar: 68) Maka, setelah malaikat Israfil meniupkan terompetnya yang kedua kalinya, seluruh makhluk pun dibangkitkan dari kuburnya oleh Allah ta’ala, lalu mereka dikumpulkan dalam suatu padang yang amat luas yang rata dengan tanah (QS. Thaha: 107. Lihat Tafsir As-Sa’di hal. 462), dalam keadaan tida...

Jangan Marah...

Image
Diriwayatkan dari Abu Hurairah   radhiyallahu ‘anhu , ada seorang lelaki berkata kepada Nabi   shollallohu ‘alaihi wa sallam ,   “Berilah saya nasihat.”   Beliau   shollallohu ‘alaihi wa sallam   bersabda,   “Jangan marah.”   Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab,   “Jangan marah.”   (HR. Bukhari). Imam Nawawi   rohimahulloh   mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.” Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  juga pernah menasihatkan,  “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.”  (HR. Ahmad, Shohih) Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh...

Terlalu banyak beramal shalih

Image
Wahai saudaraku seiman, sungguh jika kita memperhatikan tajuk yang terpampang di atas, tentunya logika kita akan serta-merta menyatakan; tidak mungkin hal tersebut terjadi pada diri seorang hamba, dan tidak mungkin seorang hamba akan merasakan yang demikian itu kecuali orang-orang yang sombong. Namun sungguh di antara kita atau bahkan diri kita sendiri mungkin pernah atau bahkan sungguh-sungguh sedang merasakannya pada saat ini. Atau bisa saja kita tidak merasakannya akibat halusnya tipu daya syaitan terhadap kita. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”  (QS. Al A’raaf: 17) Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa tatkala kita mewaspadai syaitan agar kita tidak bersikap berlebihan ...

Tawakkal

Image
Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,  “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.”  (Ath Tholaq: 2-3) Makna Bertawakkal Kepada Allah Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna Tawakkal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan,  “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang diTawakkali.”  ( Faidhul Qadir , 5/311). Ibnu ‘Abbas  radhiyAllahu’anhuma  mengatakan bahwa Tawakkal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan,  “Tawakkal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.”  Al Hasan Al Bashri pernah ditan...