Ibadur Rahman
Alloh menyebutkan sifat-sifat mereka sebagai sifat-sifat yang paling sempurna dan paling utama. Alloh menyebutkan sifat-sifat hamba-hamba itu dengan:
Pertama: Orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
Mereka adalah orang-orang yang meniti kehidupan ini dengan senantiasa tawadhu’ terhadap Alloh dan rendah hati kepada sesama makhluk, mereka berada dalam ketenangan dan memiliki kewibawaan, senantiasa tawadhu’ kepada Alloh dan kepada hamba-hambaNya. Dan apabila orang-orang pandir melontarkan kejahilannya kepada mereka, maka tidaklah hal itu membuat mereka membalas kebodohan dengan kebodohan atau dengan perbuatan dosa. Ini yang membuat mereka semakin terpuji, yaitu sikap lemah lembut dan santun, mereka membalas kejelekan dengan perbuatan ihsan dan kebaikan, bahkan memaafkan orang yang pandir atas kejahilannya, disertai ketabahan hati mereka yang mengagumkan sehingga dapat mengangkat mereka hingga mencapai kemuliaan akhlak semacam ini.
Kedua: Orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.
Mereka adalah orang-orang yang banyak mengerjakan sholat malam dan ikhlas dalam mengerjakannya demi Tuhan mereka serta senantiasa tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh ta’ala di dalam ayat yang lain,
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu Biasanya orang tidur untuk mengerjakan sholat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Robbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 16)
Ketiga: Orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah azab Jahanam dari kami.”
Mereka adalah orang-orang yang berdoa kepada Alloh supaya dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka. Mereka juga senantiasa memohon ampun atas dosa yang pernah mereka lakukan, karena dosa-dosa itu jika tidak ditaubati maka akan menjebloskan dirinya ke dalam kungkungan azab. Padahal azab neraka sangatlah menakutkan, terus menerus menyertai dan menyiksa sebagaimana lilitan hutang menyiksa hati orang yang berhutang dan tidak sanggup melunasinya. “Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Ini menunjukkan ketundukan dan perendahan hati mereka di hadapan Alloh ta’ala, serta menunjukkan betapa merasa butuhnya mereka kepada pertolongan Alloh. Karena mereka sadar kalau mereka itu tidak akan sanggup menahan pedihnya azab. Hal ini juga mengingatkan mereka akan karunia Alloh atas mereka, yaitu ketika kesulitan yang sangat berat dan mengguncangkan jiwa tersebut sirna maka hati mereka semakin bergembira dan berbunga-bunga setelah berhasil selamat dari kungkungan azab.
Keempat: Orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir.
Mereka adalah orang yang berinfak di jalan Alloh, baik infak yang hukumnya wajib atau sunnah. Infak yang wajib seperti zakat, membayar kafarah dan memberi nafkah anak dan istri. Mereka tidak melanggar batas dalam berinfak, tidak boros sehingga tidak melalaikan kewajiban infak yang lain. Tapi mereka tidak lantas menjadi bakhil atau kikir. Demikianlah infak mereka, berada di antara sikap boros dan kikir. Mereka membelanjakan harta dalam perkara-perkara yang memang layak serta dengan cara yang layak pula, tidak mengundang bahaya untuk diri pribadi maupun orang lain, ini menunjukkan sikap adil dan seimbang yang mereka miliki.
Kelima: Orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Alloh.
Mereka adalah orang-orang yang hanya menyembah kepada Alloh saja, mengikhlaskan agama dan ketaatan untuk-Nya. Mereka tinggalkan segala bentuk kesyirikan dan cenderung kepada tauhid. Menghadapkan segenap jiwa dan raga mereka hanya kepada Alloh serta memalingkan ketergantungan hati dari segala sesuatu selain kepada-Nya.
Keenam: Orang yang tidak membunuh jiwa yang diharamkan Alloh membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar.
Jiwa yang haram dibunuh adalah jiwa seorang muslim dan jiwa orang kafir yang hidup di negeri muslim yang memiliki perjanjian keamanan dengan negeri orang kafir/kafir mu’ahad. Adapun membunuh yang diperbolehkan menurut syariat adalah membunuh pembunuh (qishash) membunuh penzina yang sudah memiliki suami/istri, serta membunuh orang kafir yang halal diperangi seperti ketika mereka menyerbu negeri muslim.
Ketujuh: Orang-orang yang tidak berzina.
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluan mereka kecuali kepada istri-istri atau budak-budak mereka. Kemudian Alloh menyebutkan, “Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu” yaitu syirik, membunuh tanpa hak atau berzina “niscaya dia mendapat pembalasan dosanya.” Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal di dalam azab itu, dalam keadaan terhina, inilah ancaman sangat keras yang tertuju kepada siapa saja yang melakukan tiga perbuatan dosa itu, mereka kekal dalam kungkungan azab neraka. Karena syirik adalah dosa terbesar yang tidak mungkin diampuni oleh Alloh jika pelakunya meninggal dan belum bertaubat. Sedangkan bagi pembunuh dan penzina maka mereka menempati neraka dalam waktu yang sangat lama walaupun tidak kekal di dalamnya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan bahwasanya seluruh kaum mukminin kelak akan dikeluarkan dari neraka, tidak ada seorang mukmin pun yang kekal di dalamnya, meskipun dia pernah melakukan kemaksiatan seperti apapun.
Di dalam ayat ini Alloh menegaskan bahwa ketiga macam perbuatan itu adalah dosa-dosa terbesar. Dalam kesyirikan terkandung perusakan agama. Di dalam pembunuhan terkandung perusakan raga. Sedangkan di dalam perzinaan terkandung perusakan kehormatan dan harga diri umat manusia.
Kedelapan: Orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih.
Kemudian Alloh menyebutkan perkecualian, artinya orang-orang yang tidak akan tertimpa azab yang sangat pedih tersebut. Yaitu orang-orang yang bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa yang lainnya, (1) Dia segera meninggalkan perbuatan itu dan (2) Menyesali dosa yang pernah dilakukannya itu, dan (3) Dia juga bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Selain itu (4) Dia juga beriman kepada Alloh dengan keimanan yang benar, yaitu keimanan yang menuntut dirinya untuk meninggalkan berbagai macam kemaksiatan dan menuntutnya untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan. Selain itu (5) Dia juga beramal saleh; melakukan amal yang diperintahkan syariat dan mengikhlaskan niatnya dalam beramal hanya untuk mengharap keridhoan dan pahala melihat Wajah-Nya.

Comments
Post a Comment